Saturday, 13 February 2021

Tentang Cerita Kita Hari Ini

 Gerbang Hijau Yayasan Ihsanul Fikri Mungkid

Bismillah, 4 Februari 2021


Ketika aku duduk termenung di bawah langit biru, menatap matahari terbit yang silih berganti dengan bulan. 

Kini terpikir tentang sebuah rasa. Tak berat, namun sangat melelahkan hati yang tak bersalah apa-apa.

Aku pergi, tak tau hendak kemana, yang penting aku sendiri. Mencari ketenangan di tengah keramaian. Gedung hijau menjadi saksi, tempat ku bergumam. Menaruh doa di keheningan malam. Mengobrol dengan-Nya.

Sekitar dua bulan aku bertaruh dengan imunitas tubuhku. Masa-masa pandemi ini, mencoba berusaha, bagaimana caranya kita mampu menjaga imunitas tubuh yang baik—tapi aku gagal.

Gagal?

Apakah sekarang saatnya berhenti mencoba lalu menyerah?

Tidak, untukku.

Arti sebuah gagal adalah bukan saatnya kita berhenti mengukir pengalaman. Semakin sering gagal, semakin banyak hikmah yang butuh di uraikan.

Jalan sukses setiap orang itu beda-beda. Kita berhasil bangkit dari gagal saja itu berarti kesuksesan. Definisikan sukses itu menurut pandangan kita masing-masing. Jangan terlalu berorientasi tentang kehidupan orang lain. Jadikan itu sebagai referensi hidupmu untuk lebih baik.

***

Suatu masa, aku cerita tentang hari itu,

Rasa yang terpendam,

Kepada siapa aku akan berkata? Selain kepada tuhan yang menguasai hati-hati setiap makhluknya.

Doa yang selalu terpanjatkan,

"Laa Hawlaa Wa Laa Quwwata Illa Billah..."

Tiada daya dan kekuatakan melainkan dari Allah semata.

Dalam keheningan malam,

Ku menuliskan rasa dalam sebuah buku biru yang senantiasa menemani dikala hati hendak bercerita.

Menetaskan air mata, entah perih dirasa, namun tak tau artinya.

Cukup aku dan Ia yang tau.

Allah itu adil kok, Ndi.

Gak akan Allah membebani setiap hambanya dengan ujian yang amat berat melainkan sesuai dengan kesanggupan hambanya. Laa Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’ahaa.

Bismillah, ada Allah yang selalu membersamai.

Berpikir positif, jalani hidup ini sesuai dengan definisi bahagiamu.

Tersenyumlah.

Abi Umi menanti kontribusi nyatamu.

 

Selalu ada perasaan unik yang datang. Bukan soal doi yang membuat galau. Itumah urusa belakangan. Fokusku, sama sepertimu. Belajar, berkontribusi, dan beramal. Ikhlas yang menjadi tiang pengokohnya. Tanpa keikhlasan, tak akan semua berjalan dengan lancar.

Siapa sih manusia yang  tak harap imbalan jika menolong? Tentu semuanya mengharapkan itu, tapi itu hanyalah sebuah keegoisan semata.

Kita mampu mengarungi itu semua.

Belajar untuk ikhlas, mencoba selalu taat.

Sekarang mungkin kita merasa berat, namun suatu saat ketika Allah uji kembali, tentu kita sudah punya kuncinya.

Bersambung..

No comments:

Post a Comment

Terimakasih dan Salam Kenal!