Saturday, 13 February 2021

Genggam Dunia, Gapai Akhirat

    Gelapnya rembulan, sunyinya malam, gemercik risau yang turun dari awan.

Mewarnai malam dengan senandung hujan. Sekolahku tak jauh dari peradaban.

Letaknya tak jauh dari pusat kota yang begitu indah. Magelang namanya. Dimanapun

kami berada, disanalah tempat kami berjuang. Aku anak pertama dari lima bersaudara.

Keluargaku sederhana. Orangtuaku bukan bangsawang, tapi kehidupanku selalu bahagia penuh warna. Empat adikku, mereka adalah calon penerus bangsa.

    Saat aku kecil, orangtuaku tak pernah henti untuk meningatkan akan keesaan Tuhan

yang maha kaya. Aku dididik agar selalu taat menjalankan apa yang disyariatkan.

Godaan duniawi yang begitu besar, tidak membuatku gundah karena aku tau masa

depanku masih panjang, tak ada waktu untuk bersantai-santai.

    Hari-hari, selalu terlalui dengan detik-detik yang berlalu tanpa henti. Di bangku

SMP ini, aku terus menimba ilmu tanpa henti. Berangkat sekolah dengan penuh niat

suci dari matahari terbit hingga terbenam kembali. Selalu terhiasi dengan fenomena

yang terjadi.

    Awal mulaku merasakan belajar dijenjang baru, banyak sekali gemuruh optimis dan

pesimis yang saling bertempur, membuat semangatku naik-turun. Semua orang bersatu

di sekolah yang sama dengan berbagai visi. Jika ia punya keimanan yang kuat, maka

visi itu akan dapat tercapai. Hal itulah yang membuatku sadar akan takdir tuhan.

    Hidup itu seperti roda yang selalu berputar. Bentuknya bundar membuat kita

menjadi satu sisi yang sama rata dan tak hingga. Tidak ada orang yang bisa menghitung

banyak sisi yang ada pada lingkaran tersebut.

Sama dengan kita. Masalah itu tak dapat dihitung, sering kali datang untuk menguji

seberapa kuat diri kita menghadapinya. Seperti saat ini. Peputaran sebuah roda itu,

membuat kita belajar untuk menjadi orang yang begitu tegar. Memberikan kontribusi

terbaik untuk orang-orang yang kita sayang. Seberapa besar persentase angka

permasalahan hidup siap untuk ditaklukkan.

    Masa SMP saat ini adalah fase awal remaja untuk mengenal jati diri mereka. Pada

saat itulah banyak perilaku yang ia lakukan. Mulai dari permasalahan yang kecil yang

dibesarbesarkan ataupun sebaliknya. Namun, perilaku itulah yang menentukan seberapa

kuatkah kita dalam menghadapi problematika kehidupan.

    Kini aku yang sedang belajar di bangku kelas tujuh, sering sekali aku merasa

terheran, mengapa mereka sungguh aneh. Ada saja yang mereka lakukan. Si Mona yang

sibuk dengan rumus matematikanya, si Uti yang sibuk dengan buku biologinya, dan si

    Dona yang sibuk dengan sahabatnya.

    Lantas, aku? Apa yang harus kulakukan? Melihat mereka, lalu pergi untuk

memandangi dunia luar. Meratapi mereka yang begitu berbeda, membuatku semakin

pusing, ditambah lagi dengan Fica teman lamaku yang sekarang sudah punya teman

baru. Aku semakin bingung harus seperti apa.


***


    Setelah sekian lama aku belajar dan terus belajar. Seketika di benak hati ini terlintas

pikiran positif yang Allah berikan. Berkat guru-guruku yang selalu sabar memperatikan

muridnya membuat jati diri kami semakin kuat. Mereka selalu mengajarkan kami untuk

menjadi anak yang sholih dan sholihah. Hingga suatu ketika, aku pernah merasa ingin

menjadi seorang leader yang sholihah yang mampu menjadi pemimpin bangsa.

    Namun saat ini usiaku belum mencukupi, aku harus bisa belajar berorganisasi di

kelas tujuh ini. Hingga syukur alhamdulillah, aku ikut menjadi subdivisi organisasi

OSIS di sekolahku. Setiap kali rapat diadakan, aku ikut gabung membersamai. Awalnya

belum memahami, tapi lama-kelamaan aku pun mulai merasa rapat yang setiap kali

diadakan itu kurang efektif untuk kami.

    Hingga akhirnya, aku berbincang dengan Tina. Ia adalah teman yang selalu

mensupportku untuk terus menjadi lebih baik.

    “Tina, aku merasa aneh dengan rapat yang biasanya kita lakukan bersama kak Tazka

dan yang lainnya. Ikhwan tidak pernah serius dalam rapat. Mereka asyik mengobrol

sendiri. Apa mungkin ya, karena para leadernya akhwat semua? Hingga mereka terlalu

menyelepelekan.”

    “Iya aku juga merasakan itu. Mungkin ya karena mereka terlalu menyepelekan. ”

    “Sampai-sampai aku sempat terfikir untuk menjadi ketos deh Tin. ” (dengan rasa

percaya diri)

    “Waaaah, ya gapapa kalii.. Bagus tuu, semoga beneran terkabulkan yaa.. hehhe.”

    “Aah, kamu, maksudnya tuh aku yang mau ajak kamu untuk ikut berjuang.”

    “Untuk berjuang apa ? ”

    “Menjadi next leader di tahun depan laah.”

    “Ohh, Insyaallah, aku akan terus mendukungmu, pantang menyerah, kita harus

menjadi teladan untuk teman-teman kita nanti. Jangan kasi kendur yaaak! Ayok kita

buat perubahan. Semangat menebar kebaikan.”


***


    Setelah lama aku berbincang dengan Tina, aku merasa lebih optimis untuk berubah

menjadi wonderful muslimah. Aku sekarang punya sebuah visi besar. Jika aku ingin

sukses, aku harus mampu untuk memimpin diriku sendiri. Jangan sampai yang aku

lakukan nanti hanyalah ego semata.

    Hampir satu tahun aku belajar di kelas tujuh. Aku evaluasi diri dan tak lupa untuk

bertanya pada diri, ‘kontribusi apa yang sudah kulakukan hari ini?’ Kuatkan tekad

dengan selalu mengingat-Nya. Belajar istiqomah dalam beribadah karena kita tak akan

ada yang tau, sampai kapan Allah izinkan kita untuk melihat dunia? Nyatanya, memang

sulit. Jerih payah dengan tangisan hati tak pernah absen pada diri ini. Berkali-kali ku

menangis dihadapan-Nya. Memohon doa yang selalu terpanjatkan dalam setiap sujudku.

Tapi apa daya. Allah menyadarkan hati ini dengan sentuhan halus dari sang Illahi

Robbi.

    “Apakah dirimu sudah bertaubat? Berapa banyak dosa yang kau lakukan selama

ini? Adakah kesadaran itu pada dirimu? Sesunggunya Allah maha penerima taubat.”

Kalimat itu membasahi benak ini. “Ya Allah, begitu banyak dosa yang telah

kuperbuat. Akan kah engkau mampu menerima taubatku?” Aku bertanya pada Ia sang

pemilik Semesta.

    “Allah itu maha pengampun,yang ampunannya tak terbatasi oleh apapun. Semakin

sering kau meningat-Nya, semakin sering pula ia mengabulkan doa-doa hambanya.”

Wah, semakin kuat rasa optimis ini. Abiku pernah berkata “Nak, jadilah muslimah

yang percaya akan keesaan-Nya. Allah memang ghaib. Tapi dengan kuasanya, apapun

yang dibutukan hambanya akan nyata. Kalau ada rasa butuh atau ragu, berdoalah.

Sesunggunya, Allah itu tidak pernah tidur dan jangan lupa untuk selalu mensyukuri atas

yang telah Ia beri.”

    Aku menangis. Aku sesali hal buruk yang mungkin pernah ku lakukan dulu. Lagi-

lagi aku harus ingat, tujuan hidupku hanya untuk Allah, apapun yang sekarang ini aku

dapatkan adalah bonus dari Allah. Kita hidup karena Allah dan akan kembali kepada

Allah. Luruskan kembali niatnya. Lillahi ta’ala. Setelah semuanya sudah tersandarkan

kepada Allah. Barulah kuatkan kembali ikhtiarnya kita.


***


    Penilaian Akhir Tahun (PAT) akan tiba. Saat inilah kemampuan pendidikan kita di

uji. Untuk apa? Untuk terus menimba ilmu. Tak terasa, liburan akan tiba dan menjadi

kakak kelas delapan yang akan menjadi pengurus organisasi.

    Pergantian organisasi ini dilaksanakan secara berkala di sekolahku setiap bulan

Oktober. Mulai dari tahap pemilihan ketua dan wakil ketua organisasi hingga tahap

memegang jabatan organisasi.

    Aku mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan visiku saat di kelas tujuh dulu.

Pertama yang ku lakukan adalah bertanya kepada kakak kelasku untuk meminta arahan

dan saran. Aku bertanya-tanya tentang apa saja yang dibutuhkan untuk mendaftar calon

ketua dan wakil ketua OSIS.

    Setelah aku mendapat informasi, aku mulai berbincang tentang partner yang cocok

untuk sama-sama berjuang. Temanku Tina, sekarang sudah pindah sekolah. Aku harus

mencari partner lain. Kakak kelasku menyarankanku untuk mencari partner ikhwan,

supaya nanti ketika selama menjabat, program yang akan dijalankan lebih efektif.

Ikhwan punya pemimpin dan akhwat pun punya pemimpin. Jadi, semua lebih terarah.

    Tapi, aku punya sebuah kendala besar. Apa itu? Aku tidak pernah yang namanya punya

kenalan ikhwan. Lalu, aku harus bagaimana? Tiba-tiba Nanda datang dan berkata,

    “Hay ukh! Kenapa? Kelihatannya kamu sedang bingung.” Tanya Nanda.

    “Hee.. Iya Nan. Aku bingung ingin mencalonkan dengan siapa ya? Aku tidak kenal

ikhwan.”

    “Ohh.. Yaudah, kita tanya saja sama Pak Darwis. Kan beliau walikelasnya kelas

ikhwan.”

    “Iya juga yaa. Oke, besok kita temui Pak Darwis ya.”

    Alhamdulillah. Masalah partner sudah tersolusi. Sekarang hanya menunggu siapa

yang akan menjadi calon ketua OSIS.

    Hari ini, saat pulang sekolah kami menemui Pak Darwis dan duduk di atas sofa

kantor sambil mengobrol.

    “Assalamualaikum Pak, maaf mengganggu. Jadi begini, saya ingin mendaftarkan

diri menjadi wakil ketua OSIS, namun belum punya teman yang mau menjadi ketua

OSIS-nya. Rencana saya ingin ikhwan yang menjadi ketuanya, tapi saya tidak mengenal

ikhwan. Saya mau minta tolong, kira-kira siapa ikhwan yang ingin mencalonkan diri

menjadi ketua OSIS.” Jelasku kepada Pak Darwis.

    “Oh begitu, iya insyaallah saya bantu. Nanti saya diskusikan dulu dengan anak-

anak.”

    “Oke, terimakasih Pak.”    

    Menunggu siapa yang akan menjadi ketua seperti menunggu jodoh. Haaha, just

kidding. Enggak lah ya, dengan sabar ku menunggu kepastian.


***


    Tiga hari ku lalui, Alhamdulillah aku sudah mendapatkan siapa yang mau menjadi

calon ketua OSIS 2018/2019. Sore hari itu, aku mendapatkan informasi siapa orangnya.

Esoknya kami ingin langsung ta’aruf dengannya. Ternyata dia dulu menjabat di

organisasi ROHIS. Tapi, dia ingin menjadi ketua OSIS di periode ini. Kata kakak

kelasku, dia orangnya recomended.Tapi aku belum tau dia yang mana.

    Setelah kami ta’aruf, bersama tim sukses kami mulai merancang visi dan misi. Lalu,

mulai menyelesaikan pendaftaran dengan mengumpulkan bukti dukungan berupa tanda

tangan. Alhamdulillah proses ini berjalan lancar dan banyak orang yang mendukung

kami.

    Proses demi proses telah diselesaikan, hingga tiba saatnya kami debat antar kandidat

dan kampanye. Sungguh malu rasanya, bediri di depan seluruh anak SMP di sekolah

kami. Tapi, tidak masalah, ini adalah pengalaman terbesar untukku. Dapat berbicara di

depan banyak orang.

    Kemudian, hanya menunggu waktu untuk hari pencoblosan. Hari yang menentukan

siapa yang akan diamanahkan. Aku tau, Allah itu maha adil. Ku serahkan segalanya

kepada-Nya. Apapun hasilnya adalah yang terbaik untukku.


***


    Detik-detik waktu membuatku tegang. Hari ini adalah hari pencoblosan.

    Setelah semua orang melakukan pencoblosan, hari itu juga langsung perhitungan.

Hasilnya, sangat membuat jantung ini berdebar tanpa henti. Lagi-lagi Allah lah sang

pemilik skenario terbaik untuk hambanya. Aku bersyukur dan menangis haru.

    Alhamdulillah, Allah mengizinkanku untuk belajar menjadi leader yang tegas dan

tanggung jawab.

    “Barakallah wa Innalillah Nak.” Ujar guruku dengan senyum manis dan doa dari

mereka. Tidak hanya itu, sambutan hangat pun kurasakan dari semua teman baikku.

Tidak lupa kepeluk temanku yang menjadi lawan kandidatku dengan terus memotivasi

mereka. Walau terkadang sedih melihat mereka menangis, namun aku pun harus

mampu menahan egoku. Tidak boleh sombong.

    Hari senin tiba, saatnya upacara pelantikan organisasi. Mulai hari ini hingga satu

tahun kedepan, kami mulai untuk berkontribusi memakmurkan sekolah kami. Terutama

di OSIS. Dimulai dari pembuatan jadwal pagi untuk menyiram bunga hingga yang

lainnya.

    Hari pertama kami menjabat, sorenya kami langsung adakan rapat perdana kami.

Rapat saling ta’aruf dan membahas program kerja untuk kedapannya. Pada saat ini,

kami tak lupa untuk menjelaskan tata tertib dalam berorganisasi, terlebih lagi adab

dalam berinteraksi antara ikhwan dan akhwat. Jangan sampai, apa yang kita lakukan

membuat Allah murka. Pembina kami pun datang dan ikut serta dalam rapat perdana

ini. Banyak sekali kalimat beliau yang dapat menguatkan diri kami. Allah itu sangat luar

biasa. Keesaannya yang agung tidak akan ada yang mampu menandinginya. Ia ciptakan

akal manusia yang sungguh eloknya. Sehingga tidak ada seorang pun yang dapat

menirunya.

    “Teman-teman, besok kita rapat ya!” Seru Andika si Ketua OSIS kepadaku dan

teman-teman lainnya. Kami sedang duduk dan mengobrol bersama membahas apa yang

akan kami lakukan untuk OSIS kedepannya. Saat hari rapat itu tiba, Andika

menjelaskan kami tentang beberapa materi yang berkenaan dengan organisasi yang

sudah dipersiapkan sebelumnya bersama pengurus harian. Kemudian ia berkata, “mulai

tahun ini, kita akan memperbaiki adab dalam berbicara dengan atasan dan adab dalam

meminta dana.” Jadi, rapat kali ini kami memberikan gambaran tata cara yang baik

dalam komunikasi dan berbeda dengan sebelumnya, mulai tahun ini pula kami belajar

untuk membuat proposal dalam meminta dana. Tidak seperti sebelumnya, apabila butuh

dana hanya meminta begitu saja.

    Tidak hanya OSIS, alhamdulillah Allah memberikanku kekuatan untuk

berkontribusi dan menebar kebaikan dengan penuh keikhlasan. Aku di tahun ini,

menjabat juga menjadi tim inti Dewan Penggalang di kepramukaan sekolah kami.

    Walaupun kita muslimah, tapi kita harus menjadi akhwat yang tangguh. Belajar untuk

bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Menebar kebaikan tak bisa hanya

terduduk diam, kita harus mampu berkontribusi dan menyesuaikan diri dengan sekitar.

    Mengabdi untuk bangsa, terutama di lingkungan sekitar yang diutamakan. Ketika kita

berada di berbagai posisi, jangan lupakan ibadah, karena hanya Ia yang mengokohkan

diri agar dapat terus berdiri tegak mensyiarkan dakwah islam.

    “Bergerak terus menggapai visi adalah target duniawi. Wonderful muslimah itu

harus seimbang antara dunia dan akhirat. Ketika kita paham dunia, maka kita mampu

untuk mengatur diri agar bermanfaat bagi akhirat. Namun, jangan lupa, sesungguhnya

jika kita ingin menggapai keduanya itu ada kuncinya. Beberapa diantaranya adalah

ikhlas, disiplin, dan tanggung jawab. Belajar dulu untuk selalu ikhlas. Memang,

semuanya itu tidak ada yang mudah. Butuh proses dan kesabaran. Kemudian, disiplin.

Tidak akan sukses masa depan seseorang apabila ia belum mampu disiplin. Ketika aku

melakukan suatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang ku lakukan, rasanya sedih

dan tidak tenang. Itulah tanda-tanda apakah diri kita sudah disiplin ataukah belum.

    Terakhir, tanggung jawab. Seberapa baik rupamu, jika kita tidak bisa bertanggung

jawab, maka orang lain akan memandang buruk kepadamu. Ayolah, jangan henti untuk

berbuat baik. Tidak usah pikirkan rupamu itu, karena Allah itu menilai seseorang dari

kelembutan hatinya. Bukan dari penampilannya.” Kataku kepada teman-temanku pada

saat kumpul bersama.

    Aku berjuang demi kejayaan Islam. Berperan aktif untuk menjadi inovasi bangsa.

Teruslah bergerak maju dan pantang mundur. Selalu menyelipkan doa di dalam sujudku

pada sepertiga malam. Menyampaikan pesan hati untuk memohon pertolongan agar

selalu dikuatkan.

    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du:

28)

    Itulah salah satu ayat yang selalu mengokohkan diriku agar selalu siap dalam

menghadapi takdir Allah dan selalu mengingat-Nya.


***


Hikmah :

Menjadi seorang muslimah bukan berarti serba terbatas. Seorang muslimah mampu

menjadi pemimpin. Menampakkan kebijaksanaannya dalam memimpin. Siapa bilang

muslimah itu lemah? Jawabannya jelas tidak benar. Muslimah itu harus berprestasi dan

penuh karya. Harus mampu mempersiapkan diri untuk masa depannya. Bekal hidup

harus ada sejak usia dini. Supaya kelak muslimah dapat menjadi pemberdaya bangsa.

Membantu untuk membangun kejayaan islam dengan ketakwaan yang kuat serta untuk

mencari keridhoan-Nya. Karena hidup itu ibarat roda. Kadang diatas dan kadang

dibawah. Muslimah tangguh akan selalu siap menjadi pelopor dimanapun posisinya.

Dari kita para muslimah dapat membantu membangun generasi pewaris kejayaan Islam.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih dan Salam Kenal!