Gelapnya rembulan, sunyinya malam, gemercik risau yang turun dari awan.
Mewarnai malam dengan senandung hujan. Sekolahku tak jauh dari peradaban.
Letaknya tak jauh dari pusat kota yang begitu indah. Magelang namanya. Dimanapun
kami berada, disanalah tempat kami berjuang. Aku anak pertama dari lima bersaudara.
Keluargaku sederhana. Orangtuaku bukan bangsawang, tapi kehidupanku selalu bahagia penuh warna. Empat adikku, mereka adalah calon penerus bangsa.
Saat aku kecil, orangtuaku tak pernah henti untuk meningatkan akan keesaan Tuhan
yang maha kaya. Aku dididik agar selalu taat menjalankan apa yang disyariatkan.
Godaan duniawi yang begitu besar, tidak membuatku gundah karena aku tau masa
depanku masih panjang, tak ada waktu untuk bersantai-santai.
Hari-hari, selalu terlalui dengan detik-detik yang berlalu tanpa henti. Di bangku
SMP ini, aku terus menimba ilmu tanpa henti. Berangkat sekolah dengan penuh niat
suci dari matahari terbit hingga terbenam kembali. Selalu terhiasi dengan fenomena
yang terjadi.
Awal mulaku merasakan belajar dijenjang baru, banyak sekali gemuruh optimis dan
pesimis yang saling bertempur, membuat semangatku naik-turun. Semua orang bersatu
di sekolah yang sama dengan berbagai visi. Jika ia punya keimanan yang kuat, maka
visi itu akan dapat tercapai. Hal itulah yang membuatku sadar akan takdir tuhan.
Hidup itu seperti roda yang selalu berputar. Bentuknya bundar membuat kita
menjadi satu sisi yang sama rata dan tak hingga. Tidak ada orang yang bisa menghitung
banyak sisi yang ada pada lingkaran tersebut.
Sama dengan kita. Masalah itu tak dapat dihitung, sering kali datang untuk menguji
seberapa kuat diri kita menghadapinya. Seperti saat ini. Peputaran sebuah roda itu,
membuat kita belajar untuk menjadi orang yang begitu tegar. Memberikan kontribusi
terbaik untuk orang-orang yang kita sayang. Seberapa besar persentase angka
permasalahan hidup siap untuk ditaklukkan.
Masa SMP saat ini adalah fase awal remaja untuk mengenal jati diri mereka. Pada
saat itulah banyak perilaku yang ia lakukan. Mulai dari permasalahan yang kecil yang
dibesarbesarkan ataupun sebaliknya. Namun, perilaku itulah yang menentukan seberapa
kuatkah kita dalam menghadapi problematika kehidupan.
Kini aku yang sedang belajar di bangku kelas tujuh, sering sekali aku merasa
terheran, mengapa mereka sungguh aneh. Ada saja yang mereka lakukan. Si Mona yang
sibuk dengan rumus matematikanya, si Uti yang sibuk dengan buku biologinya, dan si
Dona yang sibuk dengan sahabatnya.
Lantas, aku? Apa yang harus kulakukan? Melihat mereka, lalu pergi untuk
memandangi dunia luar. Meratapi mereka yang begitu berbeda, membuatku semakin
pusing, ditambah lagi dengan Fica teman lamaku yang sekarang sudah punya teman
baru. Aku semakin bingung harus seperti apa.
***
Setelah sekian lama aku belajar dan terus belajar. Seketika di benak hati ini terlintas
pikiran positif yang Allah berikan. Berkat guru-guruku yang selalu sabar memperatikan
muridnya membuat jati diri kami semakin kuat. Mereka selalu mengajarkan kami untuk
menjadi anak yang sholih dan sholihah. Hingga suatu ketika, aku pernah merasa ingin
menjadi seorang leader yang sholihah yang mampu menjadi pemimpin bangsa.
Namun saat ini usiaku belum mencukupi, aku harus bisa belajar berorganisasi di
kelas tujuh ini. Hingga syukur alhamdulillah, aku ikut menjadi subdivisi organisasi
OSIS di sekolahku. Setiap kali rapat diadakan, aku ikut gabung membersamai. Awalnya
belum memahami, tapi lama-kelamaan aku pun mulai merasa rapat yang setiap kali
diadakan itu kurang efektif untuk kami.
Hingga akhirnya, aku berbincang dengan Tina. Ia adalah teman yang selalu
mensupportku untuk terus menjadi lebih baik.
“Tina, aku merasa aneh dengan rapat yang biasanya kita lakukan bersama kak Tazka
dan yang lainnya. Ikhwan tidak pernah serius dalam rapat. Mereka asyik mengobrol
sendiri. Apa mungkin ya, karena para leadernya akhwat semua? Hingga mereka terlalu
menyelepelekan.”
“Iya aku juga merasakan itu. Mungkin ya karena mereka terlalu menyepelekan. ”
“Sampai-sampai aku sempat terfikir untuk menjadi ketos deh Tin. ” (dengan rasa
percaya diri)
“Waaaah, ya gapapa kalii.. Bagus tuu, semoga beneran terkabulkan yaa.. hehhe.”
“Aah, kamu, maksudnya tuh aku yang mau ajak kamu untuk ikut berjuang.”
“Untuk berjuang apa ? ”
“Menjadi next leader di tahun depan laah.”
“Ohh, Insyaallah, aku akan terus mendukungmu, pantang menyerah, kita harus
menjadi teladan untuk teman-teman kita nanti. Jangan kasi kendur yaaak! Ayok kita
buat perubahan. Semangat menebar kebaikan.”
***
Setelah lama aku berbincang dengan Tina, aku merasa lebih optimis untuk berubah
menjadi wonderful muslimah. Aku sekarang punya sebuah visi besar. Jika aku ingin
sukses, aku harus mampu untuk memimpin diriku sendiri. Jangan sampai yang aku
lakukan nanti hanyalah ego semata.
Hampir satu tahun aku belajar di kelas tujuh. Aku evaluasi diri dan tak lupa untuk
bertanya pada diri, ‘kontribusi apa yang sudah kulakukan hari ini?’ Kuatkan tekad
dengan selalu mengingat-Nya. Belajar istiqomah dalam beribadah karena kita tak akan
ada yang tau, sampai kapan Allah izinkan kita untuk melihat dunia? Nyatanya, memang
sulit. Jerih payah dengan tangisan hati tak pernah absen pada diri ini. Berkali-kali ku
menangis dihadapan-Nya. Memohon doa yang selalu terpanjatkan dalam setiap sujudku.
Tapi apa daya. Allah menyadarkan hati ini dengan sentuhan halus dari sang Illahi
Robbi.
“Apakah dirimu sudah bertaubat? Berapa banyak dosa yang kau lakukan selama
ini? Adakah kesadaran itu pada dirimu? Sesunggunya Allah maha penerima taubat.”
Kalimat itu membasahi benak ini. “Ya Allah, begitu banyak dosa yang telah
kuperbuat. Akan kah engkau mampu menerima taubatku?” Aku bertanya pada Ia sang
pemilik Semesta.
“Allah itu maha pengampun,yang ampunannya tak terbatasi oleh apapun. Semakin
sering kau meningat-Nya, semakin sering pula ia mengabulkan doa-doa hambanya.”
Wah, semakin kuat rasa optimis ini. Abiku pernah berkata “Nak, jadilah muslimah
yang percaya akan keesaan-Nya. Allah memang ghaib. Tapi dengan kuasanya, apapun
yang dibutukan hambanya akan nyata. Kalau ada rasa butuh atau ragu, berdoalah.
Sesunggunya, Allah itu tidak pernah tidur dan jangan lupa untuk selalu mensyukuri atas
yang telah Ia beri.”
Aku menangis. Aku sesali hal buruk yang mungkin pernah ku lakukan dulu. Lagi-
lagi aku harus ingat, tujuan hidupku hanya untuk Allah, apapun yang sekarang ini aku
dapatkan adalah bonus dari Allah. Kita hidup karena Allah dan akan kembali kepada
Allah. Luruskan kembali niatnya. Lillahi ta’ala. Setelah semuanya sudah tersandarkan
kepada Allah. Barulah kuatkan kembali ikhtiarnya kita.
***
Penilaian Akhir Tahun (PAT) akan tiba. Saat inilah kemampuan pendidikan kita di
uji. Untuk apa? Untuk terus menimba ilmu. Tak terasa, liburan akan tiba dan menjadi
kakak kelas delapan yang akan menjadi pengurus organisasi.
Pergantian organisasi ini dilaksanakan secara berkala di sekolahku setiap bulan
Oktober. Mulai dari tahap pemilihan ketua dan wakil ketua organisasi hingga tahap
memegang jabatan organisasi.
Aku mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan visiku saat di kelas tujuh dulu.
Pertama yang ku lakukan adalah bertanya kepada kakak kelasku untuk meminta arahan
dan saran. Aku bertanya-tanya tentang apa saja yang dibutuhkan untuk mendaftar calon
ketua dan wakil ketua OSIS.
Setelah aku mendapat informasi, aku mulai berbincang tentang partner yang cocok
untuk sama-sama berjuang. Temanku Tina, sekarang sudah pindah sekolah. Aku harus
mencari partner lain. Kakak kelasku menyarankanku untuk mencari partner ikhwan,
supaya nanti ketika selama menjabat, program yang akan dijalankan lebih efektif.
Ikhwan punya pemimpin dan akhwat pun punya pemimpin. Jadi, semua lebih terarah.
Tapi, aku punya sebuah kendala besar. Apa itu? Aku tidak pernah yang namanya punya
kenalan ikhwan. Lalu, aku harus bagaimana? Tiba-tiba Nanda datang dan berkata,
“Hay ukh! Kenapa? Kelihatannya kamu sedang bingung.” Tanya Nanda.
“Hee.. Iya Nan. Aku bingung ingin mencalonkan dengan siapa ya? Aku tidak kenal
ikhwan.”
“Ohh.. Yaudah, kita tanya saja sama Pak Darwis. Kan beliau walikelasnya kelas
ikhwan.”
“Iya juga yaa. Oke, besok kita temui Pak Darwis ya.”
Alhamdulillah. Masalah partner sudah tersolusi. Sekarang hanya menunggu siapa
yang akan menjadi calon ketua OSIS.
Hari ini, saat pulang sekolah kami menemui Pak Darwis dan duduk di atas sofa
kantor sambil mengobrol.
“Assalamualaikum Pak, maaf mengganggu. Jadi begini, saya ingin mendaftarkan
diri menjadi wakil ketua OSIS, namun belum punya teman yang mau menjadi ketua
OSIS-nya. Rencana saya ingin ikhwan yang menjadi ketuanya, tapi saya tidak mengenal
ikhwan. Saya mau minta tolong, kira-kira siapa ikhwan yang ingin mencalonkan diri
menjadi ketua OSIS.” Jelasku kepada Pak Darwis.
“Oh begitu, iya insyaallah saya bantu. Nanti saya diskusikan dulu dengan anak-
anak.”
“Oke, terimakasih Pak.”
Menunggu siapa yang akan menjadi ketua seperti menunggu jodoh. Haaha, just
kidding. Enggak lah ya, dengan sabar ku menunggu kepastian.
***
Tiga hari ku lalui, Alhamdulillah aku sudah mendapatkan siapa yang mau menjadi
calon ketua OSIS 2018/2019. Sore hari itu, aku mendapatkan informasi siapa orangnya.
Esoknya kami ingin langsung ta’aruf dengannya. Ternyata dia dulu menjabat di
organisasi ROHIS. Tapi, dia ingin menjadi ketua OSIS di periode ini. Kata kakak
kelasku, dia orangnya recomended.Tapi aku belum tau dia yang mana.
Setelah kami ta’aruf, bersama tim sukses kami mulai merancang visi dan misi. Lalu,
mulai menyelesaikan pendaftaran dengan mengumpulkan bukti dukungan berupa tanda
tangan. Alhamdulillah proses ini berjalan lancar dan banyak orang yang mendukung
kami.
Proses demi proses telah diselesaikan, hingga tiba saatnya kami debat antar kandidat
dan kampanye. Sungguh malu rasanya, bediri di depan seluruh anak SMP di sekolah
kami. Tapi, tidak masalah, ini adalah pengalaman terbesar untukku. Dapat berbicara di
depan banyak orang.
Kemudian, hanya menunggu waktu untuk hari pencoblosan. Hari yang menentukan
siapa yang akan diamanahkan. Aku tau, Allah itu maha adil. Ku serahkan segalanya
kepada-Nya. Apapun hasilnya adalah yang terbaik untukku.
***
Detik-detik waktu membuatku tegang. Hari ini adalah hari pencoblosan.
Setelah semua orang melakukan pencoblosan, hari itu juga langsung perhitungan.
Hasilnya, sangat membuat jantung ini berdebar tanpa henti. Lagi-lagi Allah lah sang
pemilik skenario terbaik untuk hambanya. Aku bersyukur dan menangis haru.
Alhamdulillah, Allah mengizinkanku untuk belajar menjadi leader yang tegas dan
tanggung jawab.
“Barakallah wa Innalillah Nak.” Ujar guruku dengan senyum manis dan doa dari
mereka. Tidak hanya itu, sambutan hangat pun kurasakan dari semua teman baikku.
Tidak lupa kepeluk temanku yang menjadi lawan kandidatku dengan terus memotivasi
mereka. Walau terkadang sedih melihat mereka menangis, namun aku pun harus
mampu menahan egoku. Tidak boleh sombong.
Hari senin tiba, saatnya upacara pelantikan organisasi. Mulai hari ini hingga satu
tahun kedepan, kami mulai untuk berkontribusi memakmurkan sekolah kami. Terutama
di OSIS. Dimulai dari pembuatan jadwal pagi untuk menyiram bunga hingga yang
lainnya.
Hari pertama kami menjabat, sorenya kami langsung adakan rapat perdana kami.
Rapat saling ta’aruf dan membahas program kerja untuk kedapannya. Pada saat ini,
kami tak lupa untuk menjelaskan tata tertib dalam berorganisasi, terlebih lagi adab
dalam berinteraksi antara ikhwan dan akhwat. Jangan sampai, apa yang kita lakukan
membuat Allah murka. Pembina kami pun datang dan ikut serta dalam rapat perdana
ini. Banyak sekali kalimat beliau yang dapat menguatkan diri kami. Allah itu sangat luar
biasa. Keesaannya yang agung tidak akan ada yang mampu menandinginya. Ia ciptakan
akal manusia yang sungguh eloknya. Sehingga tidak ada seorang pun yang dapat
menirunya.
“Teman-teman, besok kita rapat ya!” Seru Andika si Ketua OSIS kepadaku dan
teman-teman lainnya. Kami sedang duduk dan mengobrol bersama membahas apa yang
akan kami lakukan untuk OSIS kedepannya. Saat hari rapat itu tiba, Andika
menjelaskan kami tentang beberapa materi yang berkenaan dengan organisasi yang
sudah dipersiapkan sebelumnya bersama pengurus harian. Kemudian ia berkata, “mulai
tahun ini, kita akan memperbaiki adab dalam berbicara dengan atasan dan adab dalam
meminta dana.” Jadi, rapat kali ini kami memberikan gambaran tata cara yang baik
dalam komunikasi dan berbeda dengan sebelumnya, mulai tahun ini pula kami belajar
untuk membuat proposal dalam meminta dana. Tidak seperti sebelumnya, apabila butuh
dana hanya meminta begitu saja.
Tidak hanya OSIS, alhamdulillah Allah memberikanku kekuatan untuk
berkontribusi dan menebar kebaikan dengan penuh keikhlasan. Aku di tahun ini,
menjabat juga menjadi tim inti Dewan Penggalang di kepramukaan sekolah kami.
Walaupun kita muslimah, tapi kita harus menjadi akhwat yang tangguh. Belajar untuk
bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Menebar kebaikan tak bisa hanya
terduduk diam, kita harus mampu berkontribusi dan menyesuaikan diri dengan sekitar.
Mengabdi untuk bangsa, terutama di lingkungan sekitar yang diutamakan. Ketika kita
berada di berbagai posisi, jangan lupakan ibadah, karena hanya Ia yang mengokohkan
diri agar dapat terus berdiri tegak mensyiarkan dakwah islam.
“Bergerak terus menggapai visi adalah target duniawi. Wonderful muslimah itu
harus seimbang antara dunia dan akhirat. Ketika kita paham dunia, maka kita mampu
untuk mengatur diri agar bermanfaat bagi akhirat. Namun, jangan lupa, sesungguhnya
jika kita ingin menggapai keduanya itu ada kuncinya. Beberapa diantaranya adalah
ikhlas, disiplin, dan tanggung jawab. Belajar dulu untuk selalu ikhlas. Memang,
semuanya itu tidak ada yang mudah. Butuh proses dan kesabaran. Kemudian, disiplin.
Tidak akan sukses masa depan seseorang apabila ia belum mampu disiplin. Ketika aku
melakukan suatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang ku lakukan, rasanya sedih
dan tidak tenang. Itulah tanda-tanda apakah diri kita sudah disiplin ataukah belum.
Terakhir, tanggung jawab. Seberapa baik rupamu, jika kita tidak bisa bertanggung
jawab, maka orang lain akan memandang buruk kepadamu. Ayolah, jangan henti untuk
berbuat baik. Tidak usah pikirkan rupamu itu, karena Allah itu menilai seseorang dari
kelembutan hatinya. Bukan dari penampilannya.” Kataku kepada teman-temanku pada
saat kumpul bersama.
Aku berjuang demi kejayaan Islam. Berperan aktif untuk menjadi inovasi bangsa.
Teruslah bergerak maju dan pantang mundur. Selalu menyelipkan doa di dalam sujudku
pada sepertiga malam. Menyampaikan pesan hati untuk memohon pertolongan agar
selalu dikuatkan.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du:
28)
Itulah salah satu ayat yang selalu mengokohkan diriku agar selalu siap dalam
menghadapi takdir Allah dan selalu mengingat-Nya.
***
Hikmah :
Menjadi seorang muslimah bukan berarti serba terbatas. Seorang muslimah mampu
menjadi pemimpin. Menampakkan kebijaksanaannya dalam memimpin. Siapa bilang
muslimah itu lemah? Jawabannya jelas tidak benar. Muslimah itu harus berprestasi dan
penuh karya. Harus mampu mempersiapkan diri untuk masa depannya. Bekal hidup
harus ada sejak usia dini. Supaya kelak muslimah dapat menjadi pemberdaya bangsa.
Membantu untuk membangun kejayaan islam dengan ketakwaan yang kuat serta untuk
mencari keridhoan-Nya. Karena hidup itu ibarat roda. Kadang diatas dan kadang
dibawah. Muslimah tangguh akan selalu siap menjadi pelopor dimanapun posisinya.
Dari kita para muslimah dapat membantu membangun generasi pewaris kejayaan Islam.
No comments:
Post a Comment
Terimakasih dan Salam Kenal!